INFOLANGSEB.MY.ID – Ada ironi besar yang hari ini semakin sering kita jumpai: perusakan lingkungan justru disebut sebagai pembangunan. Hutan digunduli, sungai tercemar, lahan produktif diratakan, dan ruang hidup masyarakat dikorbankan—semuanya dilegitimasi dengan satu kata sakti: pembangunan.
Sejak kapan pembangunan berarti merusak? Jika pembangunan dimaknai sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup manusia, maka menghancurkan sumber kehidupan justru merupakan bentuk kemunduran. Udara yang tercemar, air yang tak layak minum, bencana banjir dan longsor yang kian sering terjadi adalah harga mahal yang harus dibayar oleh masyarakat, terutama mereka yang hidup di sekitar wilayah terdampak.
Ironisnya, pembangunan kerap dipresentasikan melalui angka-angka pertumbuhan ekonomi, investasi, dan proyek infrastruktur megah. Namun, kerusakan ekologis tidak pernah masuk dalam neraca keuntungan. Hutan yang hilang tidak dihitung sebagai kerugian, sungai yang mati tidak dicatat sebagai utang, dan penderitaan warga hanya dianggap sebagai “dampak yang tak terhindarkan”.
Lebih menyedihkan lagi, masyarakat lokal sering kali hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Mereka kehilangan lahan, mata pencaharian, bahkan identitas budaya, sementara janji kesejahteraan jarang benar-benar terwujud. Ketika protes disuarakan, mereka dicap sebagai penghambat pembangunan, anti-kemajuan, atau tidak berpikir nasionalis.
Padahal, pembangunan sejati seharusnya berkelanjutan, adil, dan berorientasi pada masa depan. Bukan hanya memikirkan keuntungan hari ini, tetapi juga menjamin kehidupan generasi mendatang. Pembangunan yang merusak lingkungan sama saja dengan meminjam masa depan anak cucu untuk kenyamanan sesaat.
Sudah saatnya kita mengubah paradigma. Pembangunan tidak boleh lagi menjadi dalih untuk eksploitasi tanpa batas. Negara, pemodal, dan pengambil kebijakan harus berani mengakui bahwa lingkungan bukan penghalang pembangunan, melainkan fondasinya. Tanpa alam yang lestari, tidak akan ada ekonomi yang bertahan, tidak ada kesejahteraan yang berkelanjutan.
Jika pembangunan terus dijalankan dengan cara merusak, maka yang sedang kita bangun sejatinya bukan peradaban, melainkan jalan menuju kehancuran yang perlahan tapi pasti.







